30 Mei 2008

Diresmikan, Pusat Buku Indonesia

Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan Pusat Buku Indonesia yang bertempat di lantai 3 Gedung Kelapa Gading Trade Centre, Jakarta Utara, Jumat (30/5). Hadir dalam acara itu di antaranya Ny Mufidah Jusuf Kalla dan Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Setia Dharma Madjid.>>kliping>>

Negarakertagama Diakui sebagai Memori Dunia

Koleksi dokumen sejarah bangsa Indonesia, Negarakertagama, diakui sebagai Memori Dunia UNESCO. Kitab sastra yang ditulis Empu Prapanca sekitar tahun 1350-1389 itu menceritakan perjalanan sejarah Kerajaan Majapahit. Kitab yang ditulis di atas daun lontar tersebut terdaftar dalam The Memory of the World Regional Register for Asia/Pacific.>>kliping>>

Diluncurkan, Buku Palapa Nusantara 2015

Indonesia bisa kembali bangkit dengan mengangkat kembali kejayaan masa lalu yang pernah diraih. Kebangkitan Nasional tidak hanya dimulai 100 tahun lalu, tetapi lebih jauh lagi, yaitu sekitar abad ke-17.>>kliping>>

Diluncurkan, Buku Sastra Indonesia-Malaysia

Dimusikalisasikan oleh sekelompok remaja dari Tangerang pimpinan Shobir Poerwanto, puisi itu menjadi penutup rangkaian Gelar Sastra Indonesia-Malaysia di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jumat lalu. Selain pembacaan karya sastra, puisi, dan cerpen, dalam acara itu diluncurkan dua buku sastra karya penulis Indonesia dan Malaysia.>>kliping>>

22 Mei 2008

Peluncuran Kronik Kebangkitan Indonesia (1908-2008)

Hadir sebagai pembicara adalah Anhar Gongong dan JB Sumarlin. Keduanya dalam acara itu bersepakat bahwa 21 buku yang diluncurkan dengan ketebalan 1.7 meter itu bahwa ini adalah projek raksasa. "Saya tak yakin bahwa ada sejarawan yang melakukan hal seraksasa ini. Hanya orang gila yang bisa melakukannya," kata Anhar Gonggong. "Saya takjub dengan kegiatan anak-anak ini. Belum ada buku seperti ini," tandas JB Sumarlin.>>kliping>>

21 Mei 2008

Yuk, Kumpulkan Arsip ke Arsip Nasional Republik Indonesia

Kesadaran terhadap pentingnya keberadaan arsip mulai tinggi pada sebagian pribadi, perusahaan, dan partai politik. Terbukti ada pihak-pihak yang dengan sukarela menyerahkan arsip yang bernilai dan berguna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.>>kliping>>

Harmoko Luncurkan Buku

Mantan Ketua DPR/MPR Harmoko meluncurkan buku berjudul Berhentinya Soeharto. Fakta dan Kesaksian Harmoko, di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Rabu (21/5). Peluncuran buku itu dihadiri sejumlah mantan pejabat tinggi, seperti BJ Habibie, Syarwan Hamid, dan Abdul Gafur.>>kliping>>

20 Mei 2008

FLP dan Rumah Dunia, Berbagi Kiat Menulis

Diskusi, bedah buku, pelatihan, atau belajar menulis memang menjadi kegiatan rutin dan akrab dengan FLP, lembaga yang terbentuk pada 22 Februari 1997 ini. Adalah Helvy Tiana Rosa yang pertama kali menggemakan perlunya forum ini. Selain FLP ada juga Rumah Dunia. organisasi yang digerakkan Gola Gong dan kawan-kawan ini menyediakan bacaan buat anak-anak sekitar serta berbagai kegiatan belajar, seperti belajar membaca, menggambar, mendongeng, menulis, dan berteater.>>kliping>>

Rian Hamzah, Mengayuh Minat Baca dari atas Sadel

Sepeda mini abu-abu berkeranjang merek Polygon itu sudah kusam. Di beberapa bagian bahkan tampak agak ringkih. Berbeda dengan sepeda lainnya, buku-buku memenuhi keranjang dan boncengannya. Bendera merah-putih pada sebilah kayu dipasang di boncengan sepeda itu.>>tokoh>>
Hillary Clinton adalah srikandi politik yang sedang bersinar di Amerika Serikat. Dia banyak disorot dan juga dituliskan. Kiprah politik perempuan diulas dua buku: A Woman in Charge: The Life of Hillary Rodham Clinton (Carl Bernstein/Knopf, 628 pp.) dan Her Way: The Hopes and Ambitions of Hillary Rodham Clinton (Jeff Gerth and Don Van Natta Jr./Little, Brown, 438 pp.). Dua buku itu direview sekaligus oleh Michael Tomasky di The New York Review of Books>>


Tembok Berlin bukan hanya tembok yang dengan adonan semen, tapi juga perbedaan ideologi yang sarat politik kewarganegaraan. Buku The Berlin Wall: 13 August 1961-9 November 1989 yang ditulis Frederick Taylor (Bloomsbury, 486 pp, £20.00) mengulangi kembali drama itu dalam perspektif lain. Baca selengkapnya review buku tersebut yang dikerjakan Neal Ascherson di London Review of Books>>


Keberatan utama dalam menilai buku Andrea Hirata (Laskar pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor) adalah cara menyusun dan membingkai refleksi pengalaman hidupnya dalam bentuk struktur yang utuh dan solid. Akibat antusiasmenya, semua mengalir deras dan abai terhadap penataannya. Kemampuan Andrea untuk memisahkan antara dirinya dan obyek ceritanya tidak terjadi. Pengalaman masa lalunya diceritakan dalam terang kecerdasan masa kininya seolah-olah sudah terjadi pada masa ceritanya itu. Kemurnian, keluguan, dan suasana pikiran sezaman agak kacau dengan pengetahuan, kecerdasan, dan cara berpikir masa sekarangnya. Inilah yang membuat nilai dokumenternya menjadi kehilangan kepercayaan pembaca. Lebih lengkap kritik Jacob Soemardjo di Pustakaloka Kompas>>