Pada akhirnya, Front Anti Komunis, Peguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur benar-benar mendatangi kantor redaksi Jawa Pos di Surabaya. Dan, buku Soemarsono, Revolusi Agustus, dibakar di depan kantor redaksi itu. Catat ini: DIBAKAR! DIBAKAR! DIBAKAR! (Redaksi)
Ini berita Jawa Pos yang ditulis dengan sangat sangat sangat hati-hati:
Front Anti-Komunis Persoalkan Sosok Soemarsono (1)
Aminuddin: Jangan Sampai Digigit Ular Dua Kaki
SURABAYA – Sekitar 200 orang yang mengatasnamakan dirinya Front Anti-Komunis (FAK) berdemonstrasi di depan kantor Jawa Pos, Jalan A. Yani, kemarin (2/9). Mereka berkeberatan atas beberapa pernyataan Soemarsono, ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang sekarang bermukim dan menjadi warga negara Australia.
—
Tulisan yang dianggap bermasalah itu bertajuk, Soemarsono; Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya. Catatan terkait dengan sejarah dan masa lalu Soemarsono tersebut dimuat bersambung tiga seri di halaman depan Metropolis, mulai 9 hingga 11 Agustus 2009, yang ditulis Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan.
Front Anti-Komunis yang berunjuk rasa kemarin terdiri atas Peguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur.
Ada pula Forum Madura Bersatu (Formabes) Jawa Timur, DHD ‘45 Cabang Surabaya, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), serta beberapa kelompok lainnya.
FAK tiba di area parkir Graha Pena sekitar pukul 13.00. Beberapa perwakilan tampil berorasi di depan massa menggunakan pengeras suara dan membentangkan poster. Dalam orasinya, perwakilan FAK menyesalkan tulisan sosok Soemarsono, mantan gubernur militer PKI, pada peristiwa berdarah di Madiun pada 1948. ”Seolah-olah, dia adalah pahlawan. Padahal, tidak betul itu semua,” teriak Sekjen FPI Jawa Timur Muhammad Khoiruddin.
Setelah berorasi, Ketua CICS Arukat Djaswadi membacakan pernyataan sikap FAK. Dia menyesalkan pernyataan Soemarsono saat bertemu keluarga korban peristiwa 1948 di Madiun. Sebab, Soemarsono telah meminta maaf kepada keluarga korban sambil mengatakan bahwa mereka adalah sama-sama korban. Kaum komunis maupun umat Islam adalah korban dari penguasa saat itu.
Arukat menjelaskan, penguasa yang dimaksud Soemarsono adalah Mohammad Hatta. ”Alasan itu khas PKI. Sesuatu yang dipertahankan sejak gagal melakukan kudeta pada 1948,” ujarnya.
Setelah membacakan pernyataan sikap, Akurat, Muhammad Khoiruddin, dan Nazir Zaini (Formabes) beramai-ramai membakar buku testimonial Soemarsono berjudul Revolusi Agustus, Kesaksian Pelaku Sejarah.
Rampung berorasi, 25 wakil FAK diundang untuk berdialog dengan awak redaksi Jawa Pos di ruang rapat JTV. Mereka ditemui, antara lain, oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya, Ketua Dewan Redaksi Mohamad Elman, Tim Ombudsmen, serta Pemimpin Redaki JTV Imam Syafi’i.
Dalam pertemuan kemarin, sejarawan Unesa Prof Aminuddin Kasdi menilai, tulisan tentang Soemarsono dianggap membengkokkan sejarah. Bagiamana pun, kata dia, Soemarsono adalah sosok yang bersalah dalam peristiwa Madiun. Namanya semakin tercemar karena dia menjadi kader PKI.
”Dalam teks sejarah, nama Soemarsono masih belum dicabut sebagai antek PKI,” tegasnya. ”Tulisan tentang Soemarsono merupakan legitimasi bahwa sosoknya adalah pahlawan. Kami sangat sakit hati dan kami tidak ingin digigit ular dua kali,” ujarnya.
Leak Kustiya menyampaikan terima kasih atas kedatangan 18 elemen masyarakat tersebut. Terima kasih itu ditujukan terutama kepada FAK yang sudah melakukan koreksi atas pemberitaan Jawa Pos.
”Memberi kontrol tulisan untuk keseimbangan di media massa memang penting. Tapi, yang perlu diingat, sejarah, meski dibelokkan atau dibengkokkan, ia akan tetap bermuara dalam kebenarannya sendiri. Yakinlah, tak seorang pun dan tak satu koran pun yang bisa mengubah kebenaran sejarah,” jelas Leak.
Memenuhi permintaan kelompok masyarakat yang merasa dirugikan atas pemberitaan tentang Soemarsono itu, Imam Syafi’i mewakili ombudsmen menyatakan bahwa Jawa Pos bisa memberikan hak jawab kepada mereka. ”Kami akan memberikan porsi liputan yang sama. Caranya, mewawancarai saksi dan ahli sejarah yang berada di sini yang tahu betul sosok Soemarsono ini,” katanya.
Aminudin Kasdi dan Arukat adalah orang bersedia diwawancarai terkait silang sengkarut sejarah ini.
* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi 3 September 2009






Mereka membakar BUKU. Saya yang akan melawan…!!!
[Reply]
Naudzubillahminzalik
[Reply]
Dear Indonesia Buku ;
saya pribadi lebih sepakat jika diberi ruang untuk FAK menelurkan gagasan maupun sanggahannya. Memang benar kata Si Leak, tak satupun koran mampu merubah sejarah. Namun dibutuhkan kearifan dalam mensikapi masalah ini. Akupun secara pribadi adalah korban pemerintah pengusa kala itu. Tapi tetap berfikir logis, memang sejarah memiliki jamannya sendiri. Dan kita tak perlu pula merutuki sejarah, karena sejarah pula yang menjadikan bangsa ini besar.
Kenapa pula mereka tidak melihat keturunan orang yang disangka PKI. Yang tak mengerti dan bahkan tak tahu trageni iu berlangsung, namun menanggung dosa tak terperi. Tak bisa dan tak diperbolehkan berekspresi.
Saya pikir masih banyak yang musti didiskusikan tentang nilai-nilai kebangsaan yang belakangan terkoyak. Daripada sekadar berjibaku dengan saudara sendiri, saudara sesama korban kebijakan politik tempo dulu. Mungkin demikian.
salam.
[Reply]
Pustakawan Reply:
September 4th, 2009 at 4:32 am
betul mas, saya sepakat
[Reply]
ini vandalisme yang harus dilawan.
[Reply]
Lawan buku dengan buku harusnya!!! jangan buku dengan api…
masih ada ya manusi Ironis semacam itu!!!
Sial!
[Reply]
Saya sepakat vandalisme ini harus dilawan. sebagai tokoh intelektual, seharusnya beliau menjunjung tinggi nilai-nilai akademik yang telah dituangkan Soemarsono di dalam bukunya. meski kebenaran sejarah di dalamnya, memang bermasalah atau tidak, harus ditanggapi dengan porsi yang sama…
mata dengan mata, darah dengan darah dan buku dengan buku. nanti kebenarannya bisa diperbincangkan dengan akal sehat…
[Reply]
membakar buku adalah perbuatan biadab!
lawan tulisan dengan tulisan!
lawan buku dengan buku! bukan dengan membakar !
[Reply]
“Wherever books will be burned, men also, in the end, are burned.”
Heinrich Heine (1797–1856), penyair Jerman.
[Reply]
Membakar buku sama saja dengan perbuatan yg paling “tak intelek”
[Reply]
Provokasi apa yang bisa mencuci otak para kaum pembakar buku tersebut ….. buku adalah esensi pemikiran yang mahal….. terkutuklah mereka ! ! ! !
[Reply]
[...] masyarakat anti komunis dan kelompok keagamaan mendatangi kantor Jawa Pos di Surabaya [lihat di sini]. Mereka menuntut banyak hal. Selain kontes-kontes cabul-seronok yang kerap diliput Jawa Pos, juga [...]
Cuci otak gaya orde baru benar-benar luar biasa sampai orang begitu takut dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan komunisme. Seolah-olah dengan membakar buku ini, mereka menjadi lebih baik dari orang yang mereka kutuk. Benar-benar hasil pembodohan yang luar biasa, menjadikan orang-orang makin bodoh dalam dalam bereaksi terhadap apa yang dianggapnya salah. Lihat saja perilaku orang-orang bodoh yang membakar buku itu. Semoga mereka suatu saat bisa dicerdaskan.
[Reply]
komunisme itu ideologi yg sudah tertanam dan akan terus berkembang di hati&pikiran mereka.komunis 2x mengkhianati bangsa.jgn sampe trjadi yg ke 3x.new komunis dg gerakan baru inovasi baru yg lbih halus harus qt waspadai.komunis pengkhianat bangsa!ideologi mereka msh tetap ada..sampe skarang!tumpas komunis!
[Reply]
IBOEKOE Reply:
October 4th, 2009 at 9:37 am
@Putra: boleh nggak kamu sebutkan dua kali pengkhianatan PKI itu. Bagaimana dengan PRRI yang melibatkan juga bapaknya Prabowo, yakni Soemitro. Masjumi pengkhianat bangsa juga karena turut dalam PRRI, termasuk Natsir, Sjarifuddin Prawira dan seterusnya. Juga ada tokoh2 PSI yang juga ambil bagian dalam PRRI. Bagaimana????
[Reply]
tak ada satupun ideologi yang sempurna di dunia ini. di sisi paradoksikalnya yg lain, tak ada pula ideologi yang sepenuhnya salah.
ketika ideologi hanyalah sebuah platform politik dari sekumpulan orang, dan kemudian mencoba mengekspresikan ide-ide fundamentalnya, dan lalu kalah oleh kekuatan lain, maka konsekuensi logisnya, ideologi itu memang ahrus rela menjadi kambing hitam.
ini bukan tentang kebenaran. ini tentang kekuasaan.
dan btw, saya jadi inget petikan lirik lagunya Pearl Jam dalam Do the Evolution:
“I can kill you, cause in God I trust…”
[Reply]
Konflik apapun di masa lalu jangan diaktualisasikan dan dibawa-bawa ke masa kini. Sejarah adalah bekal hidup untuk pembelajaran di masa kini dan masa depan. Generasi muda harus bersatu-padu melawan invasi dari luar negeri. Melawan penjajahan ekonomi asing, melawan budaya asing yang merusak, dan lain sebagainya.
Ingat, nenek-moyang kita yang sakti mandraguna dan berilmu tinggi dari beragam agama itu kalah, ya, kalah oleh Belanda yang mungil, kalah oleh Inggris, kalah oleh Portugis, bahkan kalah oleh Malaysia dalam perebutan wilayah perbatasan.
Kenapa kalah? Karena konflik terjadi di antara bangsa awak sendiri. Konflik antar ideologi tidak ada habis-habisnya. Mari kita bergandengan tangan saja. Sejarah adalah bahan pembelajaran, dan guru paling bijak.
Salam,
[Reply]