Minggu Legi, 01 Agustus 2010
Indonesia Buku

Front Anti Komunis Membakar Buku Revolusi Agustus di Jawa Pos

Diposting oleh IBOEKOE on Sep 3rd, 2009 di topik Kronik. Anda dapat mengikuti diskusi pada berita ini melalui RSS 2.0. Anda bisa juga meninggalkan komentar dan trackback

[ Kamis, 03 September 2009 ]
Front Anti-Komunis Persoalkan Sosok Soemarsono (1)
Aminuddin: Jangan Sampai Digigit Ular Dua Kaki
SURABAYA – Sekitar 200 orang yang mengatasnamakan dirinya Front Anti-Komunis (FAK) berdemonstrasi di depan kantor Jawa Pos, Jalan A. Yani, kemarin (2/9). Mereka berkeberatan atas beberapa pernyataan Soemarsono, ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang sekarang bermukim dan menjadi warga negara Australia.
TULISAN yang dianggap bermasalah itu bertajuk, Soemarsono; Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya. Catatan terkait dengan sejarah dan masa lalu Soemarsono tersebut dimuat bersambung tiga seri di halaman depan Metropolis, mulai 9 hingga 11 Agustus 2009, yang ditulis Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan.
Front Anti-Komunis yang berunjuk rasa kemarin terdiri atas Peguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur.
Ada pula Forum Madura Bersatu (Formabes) Jawa Timur, DHD ‘45 Cabang Surabaya, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), serta beberapa kelompok lainnya.
FAK tiba di area parkir Graha Pena sekitar pukul 13.00. Beberapa perwakilan tampil berorasi di depan massa menggunakan pengeras suara dan membentangkan poster. Dalam orasinya, perwakilan FAK menyesalkan tulisan sosok Soemarsono, mantan gubernur militer PKI, pada peristiwa berdarah di Madiun pada 1948. ”Seolah-olah, dia adalah pahlawan. Padahal, tidak betul itu semua,” teriak Sekjen FPI Jawa Timur Muhammad Khoiruddin.
Setelah berorasi, Ketua CICS Arukat Djaswadi membacakan pernyataan sikap FAK. Dia menyesalkan pernyataan Soemarsono saat bertemu keluarga korban peristiwa 1948 di Madiun. Sebab, Soemarsono telah meminta maaf kepada keluarga korban sambil mengatakan bahwa mereka adalah sama-sama korban. Kaum komunis maupun umat Islam adalah korban dari penguasa saat itu.
Arukat menjelaskan, penguasa yang dimaksud Soemarsono adalah Mohammad Hatta. ”Alasan itu khas PKI. Sesuatu yang dipertahankan sejak gagal melakukan kudeta pada 1948,” ujarnya.
Setelah membacakan pernyataan sikap, Akurat, Muhammad Khoiruddin, dan Nazir Zaini (Formabes) beramai-ramai membakar buku testimonial Soemarsono berjudul Revolusi Agustus, Kesaksian Pelaku Sejarah.
Rampung berorasi, 25 wakil FAK diundang untuk berdialog dengan awak redaksi Jawa Pos di ruang rapat JTV. Mereka ditemui, antara lain, oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya, Ketua Dewan Redaksi Mohamad Elman, Tim Ombudsmen, serta Pemimpin Redaki JTV Imam Syafi’i.
Dalam pertemuan kemarin, sejarawan Unesa Prof Aminuddin Kasdi menilai, tulisan tentang Soemarsono dianggap membengkokkan sejarah. Bagiamana pun, kata dia, Soemarsono adalah sosok yang bersalah dalam peristiwa Madiun. Namanya semakin tercemar karena dia menjadi kader PKI.
”Dalam teks sejarah, nama Soemarsono masih belum dicabut sebagai antek PKI,” tegasnya. ”Tulisan tentang Soemarsono merupakan legitimasi bahwa sosoknya adalah pahlawan. Kami sangat sakit hati dan kami tidak ingin digigit ular dua kali,” ujarnya.
Leak Kustiya menyampaikan terima kasih atas kedatangan 18 elemen masyarakat tersebut. Terima kasih itu ditujukan terutama kepada FAK yang sudah melakukan koreksi atas pemberitaan Jawa Pos.
”Memberi kontrol tulisan untuk keseimbangan di media massa memang penting. Tapi, yang perlu diingat, sejarah, meski dibelokkan atau dibengkokkan, ia akan tetap bermuara dalam kebenarannya sendiri. Yakinlah, tak seorang pun dan tak satu koran pun yang bisa mengubah kebenaran sejarah,” jelas Leak.
Memenuhi permintaan kelompok masyarakat yang merasa dirugikan atas pemberitaan tentang Soemarsono itu, Imam Syafi’i mewakili ombudsmen menyatakan bahwa Jawa Pos bisa memberikan hak jawab kepada mereka. ”Kami akan memberikan porsi liputan yang sama. Caranya, mewawancarai saksi dan ahli sejarah yang berada di sini yang tahu betul sosok Soemarsono ini,” katanya.
Aminudin Kasdi dan Arukat adalah orang bersedia diwawancarai terkait silang sengkarut sejarah ini. (nur/el)

Pada akhirnya, Front Anti Komunis, Peguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur benar-benar mendatangi kantor redaksi Jawa Pos di Surabaya. Dan, buku Soemarsono, Revolusi Agustus, dibakar di depan kantor redaksi itu. Catat ini: DIBAKAR! DIBAKAR! DIBAKAR! (Redaksi)

Ini berita Jawa Pos yang ditulis dengan sangat sangat sangat hati-hati:

Front Anti-Komunis Persoalkan Sosok Soemarsono (1)

Aminuddin: Jangan Sampai Digigit Ular Dua Kaki

SURABAYA – Sekitar 200 orang yang mengatasnamakan dirinya Front Anti-Komunis (FAK) berdemonstrasi di depan kantor Jawa Pos, Jalan A. Yani, kemarin (2/9). Mereka berkeberatan atas beberapa pernyataan Soemarsono, ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang sekarang bermukim dan menjadi warga negara Australia.

Tulisan  yang dianggap bermasalah itu bertajuk, Soemarsono; Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya. Catatan terkait dengan sejarah dan masa lalu Soemarsono tersebut dimuat bersambung tiga seri di halaman depan Metropolis, mulai 9 hingga 11 Agustus 2009, yang ditulis Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan.

Front Anti-Komunis yang berunjuk rasa kemarin terdiri atas Peguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur.

Ada pula Forum Madura Bersatu (Formabes) Jawa Timur, DHD ‘45 Cabang Surabaya, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), serta beberapa kelompok lainnya.

FAK tiba di area parkir Graha Pena sekitar pukul 13.00. Beberapa perwakilan tampil berorasi di depan massa menggunakan pengeras suara dan membentangkan poster. Dalam orasinya, perwakilan FAK menyesalkan tulisan sosok Soemarsono, mantan gubernur militer PKI, pada peristiwa berdarah di Madiun pada 1948. ”Seolah-olah, dia adalah pahlawan. Padahal, tidak betul itu semua,” teriak Sekjen FPI Jawa Timur Muhammad Khoiruddin.

Setelah berorasi, Ketua CICS Arukat Djaswadi membacakan pernyataan sikap FAK. Dia menyesalkan pernyataan Soemarsono saat bertemu keluarga korban peristiwa 1948 di Madiun. Sebab, Soemarsono telah meminta maaf kepada keluarga korban sambil mengatakan bahwa mereka adalah sama-sama korban. Kaum komunis maupun umat Islam adalah korban dari penguasa saat itu.

Arukat menjelaskan, penguasa yang dimaksud Soemarsono adalah Mohammad Hatta. ”Alasan itu khas PKI. Sesuatu yang dipertahankan sejak gagal melakukan kudeta pada 1948,” ujarnya.

Setelah membacakan pernyataan sikap, Akurat, Muhammad Khoiruddin, dan Nazir Zaini (Formabes) beramai-ramai membakar buku testimonial Soemarsono berjudul Revolusi Agustus, Kesaksian Pelaku Sejarah.

Rampung berorasi, 25 wakil FAK diundang untuk berdialog dengan awak redaksi Jawa Pos di ruang rapat JTV. Mereka ditemui, antara lain, oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya, Ketua Dewan Redaksi Mohamad Elman, Tim Ombudsmen, serta Pemimpin Redaki JTV Imam Syafi’i.

Dalam pertemuan kemarin, sejarawan Unesa Prof Aminuddin Kasdi menilai, tulisan tentang Soemarsono dianggap membengkokkan sejarah. Bagiamana pun, kata dia, Soemarsono adalah sosok yang bersalah dalam peristiwa Madiun. Namanya semakin tercemar karena dia menjadi kader PKI.

”Dalam teks sejarah, nama Soemarsono masih belum dicabut sebagai antek PKI,” tegasnya. ”Tulisan tentang Soemarsono merupakan legitimasi bahwa sosoknya adalah pahlawan. Kami sangat sakit hati dan kami tidak ingin digigit ular dua kali,” ujarnya.

Leak Kustiya menyampaikan terima kasih atas kedatangan 18 elemen masyarakat tersebut. Terima kasih itu ditujukan terutama kepada FAK yang sudah melakukan koreksi atas pemberitaan Jawa Pos.

”Memberi kontrol tulisan untuk keseimbangan di media massa memang penting. Tapi, yang perlu diingat, sejarah, meski dibelokkan atau dibengkokkan, ia akan tetap bermuara dalam kebenarannya sendiri. Yakinlah, tak seorang pun dan tak satu koran pun yang bisa mengubah kebenaran sejarah,” jelas Leak.

Memenuhi permintaan kelompok masyarakat yang merasa dirugikan atas pemberitaan tentang Soemarsono itu, Imam Syafi’i mewakili ombudsmen menyatakan bahwa Jawa Pos bisa memberikan hak jawab kepada mereka. ”Kami akan memberikan porsi liputan yang sama. Caranya, mewawancarai saksi dan ahli sejarah yang berada di sini yang tahu betul sosok Soemarsono ini,” katanya.

Aminudin Kasdi dan Arukat adalah orang bersedia diwawancarai terkait silang sengkarut sejarah ini.

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi 3 September 2009

37 tanggapan untuk “Front Anti Komunis Membakar Buku Revolusi Agustus di Jawa Pos”

  1. sasa says:

    Mereka membakar BUKU. Saya yang akan melawan…!!!

    [Reply]

  2. Pustakawan says:

    Naudzubillahminzalik

    [Reply]

  3. teguh budi says:

    Dear Indonesia Buku ;

    saya pribadi lebih sepakat jika diberi ruang untuk FAK menelurkan gagasan maupun sanggahannya. Memang benar kata Si Leak, tak satupun koran mampu merubah sejarah. Namun dibutuhkan kearifan dalam mensikapi masalah ini. Akupun secara pribadi adalah korban pemerintah pengusa kala itu. Tapi tetap berfikir logis, memang sejarah memiliki jamannya sendiri. Dan kita tak perlu pula merutuki sejarah, karena sejarah pula yang menjadikan bangsa ini besar.

    Kenapa pula mereka tidak melihat keturunan orang yang disangka PKI. Yang tak mengerti dan bahkan tak tahu trageni iu berlangsung, namun menanggung dosa tak terperi. Tak bisa dan tak diperbolehkan berekspresi.

    Saya pikir masih banyak yang musti didiskusikan tentang nilai-nilai kebangsaan yang belakangan terkoyak. Daripada sekadar berjibaku dengan saudara sendiri, saudara sesama korban kebijakan politik tempo dulu. Mungkin demikian.

    salam.

    [Reply]

    Pustakawan Reply:

    betul mas, saya sepakat

    [Reply]

  4. Fayyadl says:

    ini vandalisme yang harus dilawan.

    [Reply]

  5. Irwan Bajang says:

    Lawan buku dengan buku harusnya!!! jangan buku dengan api…
    masih ada ya manusi Ironis semacam itu!!!
    Sial!

    [Reply]

  6. Musthafa Amin says:

    Saya sepakat vandalisme ini harus dilawan. sebagai tokoh intelektual, seharusnya beliau menjunjung tinggi nilai-nilai akademik yang telah dituangkan Soemarsono di dalam bukunya. meski kebenaran sejarah di dalamnya, memang bermasalah atau tidak, harus ditanggapi dengan porsi yang sama…
    mata dengan mata, darah dengan darah dan buku dengan buku. nanti kebenarannya bisa diperbincangkan dengan akal sehat…

    [Reply]

  7. Tanzil says:

    membakar buku adalah perbuatan biadab!
    lawan tulisan dengan tulisan!
    lawan buku dengan buku! bukan dengan membakar !

    [Reply]

  8. “Wherever books will be burned, men also, in the end, are burned.”

    Heinrich Heine (1797–1856), penyair Jerman.

    [Reply]

  9. Habiburrohman says:

    Membakar buku sama saja dengan perbuatan yg paling “tak intelek”

    [Reply]

  10. Buku Lovers says:

    Provokasi apa yang bisa mencuci otak para kaum pembakar buku tersebut ….. buku adalah esensi pemikiran yang mahal….. terkutuklah mereka ! ! ! !

    [Reply]

  11. [...] masyarakat anti komunis dan kelompok keagamaan mendatangi kantor Jawa Pos di Surabaya [lihat di sini]. Mereka menuntut banyak hal. Selain kontes-kontes cabul-seronok yang kerap diliput Jawa Pos, juga [...]

  12. Rini says:

    Cuci otak gaya orde baru benar-benar luar biasa sampai orang begitu takut dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan komunisme. Seolah-olah dengan membakar buku ini, mereka menjadi lebih baik dari orang yang mereka kutuk. Benar-benar hasil pembodohan yang luar biasa, menjadikan orang-orang makin bodoh dalam dalam bereaksi terhadap apa yang dianggapnya salah. Lihat saja perilaku orang-orang bodoh yang membakar buku itu. Semoga mereka suatu saat bisa dicerdaskan.

    [Reply]

  13. putra takeran magetan says:

    komunisme itu ideologi yg sudah tertanam dan akan terus berkembang di hati&pikiran mereka.komunis 2x mengkhianati bangsa.jgn sampe trjadi yg ke 3x.new komunis dg gerakan baru inovasi baru yg lbih halus harus qt waspadai.komunis pengkhianat bangsa!ideologi mereka msh tetap ada..sampe skarang!tumpas komunis!

    [Reply]

    IBOEKOE Reply:

    @Putra: boleh nggak kamu sebutkan dua kali pengkhianatan PKI itu. Bagaimana dengan PRRI yang melibatkan juga bapaknya Prabowo, yakni Soemitro. Masjumi pengkhianat bangsa juga karena turut dalam PRRI, termasuk Natsir, Sjarifuddin Prawira dan seterusnya. Juga ada tokoh2 PSI yang juga ambil bagian dalam PRRI. Bagaimana????

    [Reply]

  14. is says:

    tak ada satupun ideologi yang sempurna di dunia ini. di sisi paradoksikalnya yg lain, tak ada pula ideologi yang sepenuhnya salah.
    ketika ideologi hanyalah sebuah platform politik dari sekumpulan orang, dan kemudian mencoba mengekspresikan ide-ide fundamentalnya, dan lalu kalah oleh kekuatan lain, maka konsekuensi logisnya, ideologi itu memang ahrus rela menjadi kambing hitam.
    ini bukan tentang kebenaran. ini tentang kekuasaan.
    dan btw, saya jadi inget petikan lirik lagunya Pearl Jam dalam Do the Evolution:
    “I can kill you, cause in God I trust…”

    [Reply]

  15. Mbah Sghriwo says:

    Konflik apapun di masa lalu jangan diaktualisasikan dan dibawa-bawa ke masa kini. Sejarah adalah bekal hidup untuk pembelajaran di masa kini dan masa depan. Generasi muda harus bersatu-padu melawan invasi dari luar negeri. Melawan penjajahan ekonomi asing, melawan budaya asing yang merusak, dan lain sebagainya.
    Ingat, nenek-moyang kita yang sakti mandraguna dan berilmu tinggi dari beragam agama itu kalah, ya, kalah oleh Belanda yang mungil, kalah oleh Inggris, kalah oleh Portugis, bahkan kalah oleh Malaysia dalam perebutan wilayah perbatasan.
    Kenapa kalah? Karena konflik terjadi di antara bangsa awak sendiri. Konflik antar ideologi tidak ada habis-habisnya. Mari kita bergandengan tangan saja. Sejarah adalah bahan pembelajaran, dan guru paling bijak.

    Salam,

    [Reply]

  16. sabda alam says:

    mereka yg berbicara bahwa sejarah pki madiun adalah dusta betul2 goblok dan tolol nya mereka mereka bersorak-sorak bahwa sejak soeharto lengser komunis di perboleh kan lgi tapi TIDAK sama sekali komunis adalah suatu ideologi dimana anarkisme di perboleh kan pembunuhan di perboleh kan mereka senantiasa membenci agama melaknat alim ulama MENGINGKARI ADANYA TUHAN MEMFITNAH BAHWA SORGA TAK ADA tapi mereka bersembunyi di belakang kita berbaik hati bagai seorang ulama mulutnya manis bagai madu tapi fitnah hasutan tak pernah berhenti mereka senantiasa mengobarkan ke biadaban kakek atau bapa-ibu nya mereka mengira itu semua CUCI OTAK ORDE BARU tapi saya berkata CUCILAH OTAK DAN PERBUATAN KALIAN SELAMA DI DUNIA HILANGKAN LAH IRI DENGKI DENDAM DAN KOTORAN-KOTORAN DI HATI KALIAN BERTAUBAT LAH KALIAN tanda bahwa komunis masih ada adalah sifat bapak-ibu nyamenurunkan ke anak nya sejak kecil mungkin mereka di ajari berkelahi mungkin tak ada artinya kalian berteriak teriak HIDUP PKI HIDUP PKI HIDUP PKI pki sudah tak ada pki tinggal nama yg ada sampah-sampah pki itu mereka memfitah golongan ulama partai-partai islam seperti psii dan masyumi mereka tertawa bersorak kemenangan tapi alllah membela pada yg benar allah berikan cahaya kepada kita akan bahayanya pki tapi mereka sudah jatuh mereka sudah hancurrrr leburrr mati digundukan tanah menjadi tulang belulang bagi mereka yg mengaku pki HEY PKI HEY MANUSIA KOMUNIS TUNJUKANLAH HIDUNG KALIAN APA KALIAN TAKUT PADA KAMI APA KALIAN TAKUT JIKA KAMI MENGLULUH LANTAKAN KOMUNIS SEBAGAI MANA KEJADIAN YG LALU BAGI KALIAN YG BERANI MAJU JANGAN GENTAR APA KALAN HANYA BESAR DI MULUT LEMAH DI FISIK MANA PKI PKI SUDAH HANCUR LEBUR GA ADA LAGI AYO MAJU MANA PKI KLO PKI PUNYA ANGGOTA 100 ANGOTA ANTI PKI 1000 JIKA ANGOTA PKI 1000 ANGOTA ANTI PKI 1000000 DAN SETERUSNYA KAMI TAK AKAN GENTAR KAMI TAK AKAN MUNDUR SETAPAK PUN UNTUK MENGHADAPI PKI KARENA indonesia akan lebih makmur tanpa campur tangan kalian MERDEKA HIDUP INDONESIA HIDUP PANCA SILA ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR

    [Reply]

    Pustakawan Reply:

    Wahai saudaraku Sabda Alam, kata-katamu di atas sungguh menimbulkan kerisauan, menumbuhkan bibit-bibit kebencian dan amarah di dalam hati, yang akhirnya akan menimbulkan penyakit hati serta dengki. Lalu apa bedanya dengan tuduhan yang selama ini dilakukan oleh penguasa lalim, thogut, yang menganggap bahwa kritik berarti ancaman terhadap ketertiban umum, bahkan disamakan dengan perbuatan menghasut atau menebar kebencian?

    Wahai saudaraku Sabda Alam. Kejujuran dan keterbukaan adalah sifat terpuji yang diajarkan oleh panutan ummat muslim, karena itu, bersikaplah terbuka, bukalah hati dan pikiran untuk berdialog, dan tunjukkanlah sikap itu dengan menunjukkan jati dirimu agar kita dapat saling ‘berjabat tangan’ dan ‘berbicara’ meski hanya lewat media maya ini.

    Wassalam

    [Reply]

  17. SABDA ALAMSYAH says:

    MENGAPA SAYA BERBICARA SEPERTI ITU BUNG PKI MADIUN ITU KENYATAAN DI SAAT BANGSA KITA SEDANG BERJUANG MELAWAN PENJAJAH MEREKA MALAH MEMBUAT PEMBERONTAKAN PENGHIANATAN YG BAGI BANGSA INDONESIA BAGAI MUSUH DALAM SELIMUT APA GUNANYA MEREKA MEMBERONTAK TAK ADA GUNANYA ITU MALAH MEMBUAT MASALAH YG BERTAMBAH HEY BUNG SUDAH CUKUP BANGSA KITA PENUH MASALAH TAPI JANGAN BUNG MENAMBAH MASALAH PKI MEMBERONTAK TANPA SEBAB MEMBUNUH SECARA MEMBABI BUTA SEHINGGA RAKYAT KAUM ULAMA TNI DANTOKOH PENTING SEPERTI GUBERNUR JATIM R.M SURYO DAN DR MUWARDI MENJADI KORBAN SUATU KEBIADABAN MENJADI SUATU KORBAN PENGHIANATAN MENJADI SUATU KORBAN YG MATI SIA2 APA DIBENARKAN SEORANG PAHLAWAN MEMBERONTAK APA DIBENARKAN SEORANG PAHLAWAN BER HIANAT APA DIBENARKAN SEORANG PAHLAWAN MEMBUNUH ORANG YG TAK BERSALAH APALAGI BANGSANYA SENDIRI SAMA SEKALI TIDAK PKI ADALAH SUATU PARTAI POLITIK YG BERIDIOLOGI TAK JELAS YG MEMBUAT KERESAHAN RAKYAT ITU SENDIRI BILAANDA BUKAN KOMUNIS PASTI ANDA DIAM ATAU MEMBELA ATAU APASAJA TAPI SAYA MENULIS DIATAS SEBAGAI PEMANCING AGAR KALIAN SAMPAH2 PKI MENUNJUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI SEORANG KOMUNIS BUKAN MENYAMAR BERGANTI KULIT MENJADI ORANG YG ALIM DAN BAIK KLO ANDA SETUJU SAYA ANTI KOMUNIS ANDA HARUS KOMENTAR YA SAYA ANTI KOMUNIS TAPI KLO ANDA KOMUNIS YA TERSERAH ANDA TOH ITU HAK KALIAN DAN INGAT SUATU YG DI BENCI TUHAN DAN MANUSIA ADALAH SEORANG PENGHIANAT

    WASSALAM

    [Reply]

    Pustakawan Reply:

    “HEY BUNG SUDAH CUKUP BANGSA KITA PENUH MASALAH TAPI JANGAN BUNG MENAMBAH MASALAH PKI MEMBERONTAK TANPA SEBAB….”

    Wahai saudaraku Sabda Alamsyah, saya tidak sedang menambah masalah. Saya jadi ingin tahu, pernyataan tertulis saya yang mana yang saudara anggap sebagai masalah yang saya tambahkan? Dan bagaimana hubungan antara komentar saya ini dengan bangsa kita yang kini sedang penuh masalah?

    “TAPI SAYA MENULIS DIATAS SEBAGAI PEMANCING AGAR KALIAN SAMPAH2 PKI MENUNJUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI SEORANG KOMUNIS BUKAN MENYAMAR BERGANTI KULIT MENJADI ORANG YG ALIM DAN BAIK…”

    Saudaraku Sabda Alamsyah yang baik, tidak ada upaya saya untuk menyamar jadi orang alim dan baik. Saya hanya mengajak untuk berpikir lebih jernih, tidak emosional karena tidak ada gunanya. Lagi pula, saudara Sabda Alamsyah juga tidak perlu memancing-mancing, karena tidak ada sampah-sampah PKI di sini. Di sini isinya adalah manusia, sama seperti saudara Sabda Alamsyah. Kita semua adalah manusia, yang membedakan antara manusia satu dengan yang lain hanyalah baik dan buruknya, bukankah begitu saudara Sabda Alamsyah yang baik?

    “…KLO ANDA SETUJU SAYA ANTI KOMUNIS ANDA HARUS KOMENTAR YA SAYA ANTI KOMUNIS TAPI KLO ANDA KOMUNIS YA TERSERAH ANDA TOH ITU HAK KALIAN DAN INGAT SUATU YG DI BENCI TUHAN DAN MANUSIA ADALAH SEORANG PENGHIANAT.”

    Saya Pancasilais lho :D

    Silahkan simak profil saya yang ada kutipan salah satu sila dalam Pancasila :D

    Saya sungguh ingin tahu, mengapa Saudara Sabda Alamsyah selalu teringat tragedi-tragedi pemberontakan PKI. Kalau saya boleh tahu, apakah ada keluarga Saudara Sabda Alam yang menjadi korban dalam tragedi-tragedi tersebut, sehingga Saudara Sabda Alamsyah selalu teringat dan menganggap komunis adalah hantu yang sewaktu-waktu akan muncul kembali.

    Kalau memang benar ada keluarga Sabda Alamsyah yang menjadi korban, saya bersimpati. Namun, saya pikir perlu juga melihat sikap keluarga Yani, yakni Amelia Yani yang secara terbuka bersikap bahwa tidak perlu meneruskan dendam dan permusuhan.

    Kalau ternyata tidak ada keluarga Sabda Alamsyah yang menjadi korban, lantas mengapa saudara Sabda Alamsyah begitu bersemangat mengingat tragedi masa lalu di masa kini? Jujur dan terbuka sajalah, bukankah itu juga yang saudara Sabda Alamsyah harapkan dari dialog ini.

    Satu hal lagi, coba saudara Sabda Alamsyah jelaskan, seberapa mungkinkah terjadi pemberontakan komunis di masa kini, sehingga saudara Sabda Alamsyah merasa perlu selalu memperingatkan bahaya komunisme.

    Salam

    [Reply]

  18. sabda alam syah says:

    bung saya tak memikirkan pemberontakan komunis tapi saya memikirkan agama allah yg sudah mulai tercemar ajaran2 anarkis kaum komunis para ulama indonesia pun sudah tahu bahwa ajaran komunis adalah ajaran yg tidak sesuai dengan fitrah manusia jujur memang keluarga saya jadi korban tapi yg terpenting negara kita tak akan maju jika komunis ikut campur di republik kita saya tahu islam mereka hanya berkedok saja pada saat partai komunis indonesia(pki) muncul mereka mengunakan KITAB SUCI AL-QURAN sebagai alat peropaganda mereka setelah kuat partai mereka mereka bahkan berani membunuh orang yg tak berdosa bahkan kaum ulama ,ulama adalah penyambung lidah nabi jika ulama mati dibunuh pasti banyak ilmu pula menjadi mati atas kekejian pki itu saya hanya tak mau sejarah berdarah di negri kita terulang lagi saya hanya ingin memperingati teman2 adik2 saya dari tetangga dan orang di sekitar kita untuk mencegah pki bangkit di indonesia bahkan saya juga memberi arahan pada mantan pki bahwa apa yg di kerjakan sia2 dan saya menolak tegas gagasan pki bila hak cipta seseorang tak diperbolehkan pantas negrikita kebudayaan nya banyak di klaim negara tetangga dan tak menghargai karya orang lain sedang kutipan tentang “tuhan” saya cuma turut memperingatkan toh yg penting saya berjuang lilahitaala atasnama allah tuhan serusekalian alam dan memurnikan AL QURAN juga al hadis semoga anda mengerti maksut saya dan moga anda tak terpengaruh komunis amin

    wassalam

    [Reply]

    Pustakawan Reply:

    Sodara Sabda Alamsyah, kok dalam komentar anda makin banyak aja pernyataan yg sumir ujung-pangkalnya.

    “bung saya tak memikirkan pemberontakan komunis tapi saya memikirkan agama allah yg sudah mulai tercemar ajaran2 anarkis kaum komunis”

    Tolong dong jelaskan ajaran2 anarkis kaum komunis mana yg sodara bilang mencemari itu? Anarkis yang anda maksud itu yg seperti apa, kalo misalnya bakar buku, mukulin orang, ngancam pake golok, kira2 semacam itukah anarkis itu? apakah tindakan-tindakan anarkis semacam itu biang keladinyanya adalah ajaran komunisme?

    “…para ulama indonesia pun sudah tahu bahwa ajaran komunis adalah ajaran yg tidak sesuai dengan fitrah manusia jujur memang keluarga saya jadi korban tapi yg terpenting negara kita tak akan maju jika komunis ikut campur di republik kita”

    saya bersimpati dengan tragedi yg menimpa keluarga anda. tapi jangan gitu dong, sampe nggak mau ngajak orang lain yg beda prinsip duduk bareng mikirin republik ini. republik ini bukan kepunyaan satu kelompok kan, wong yg punya gagasan awal ttg republik ini juga tokoh komunis kok.

    “…saya tahu islam mereka hanya berkedok saja pada saat partai komunis indonesia(pki) muncul mereka mengunakan KITAB SUCI AL-QURAN sebagai alat peropaganda mereka setelah kuat partai mereka mereka bahkan berani membunuh orang yg tak berdosa bahkan kaum ulama ,ulama adalah penyambung lidah nabi jika ulama mati dibunuh pasti banyak ilmu pula menjadi mati atas kekejian pki itu

    Siapapun bisa menggunakan kitab suci untuk melakukan propaganda, bahkan dijadikan dalil pembenaran untuk menghalalkan darah orang lain. Tapi sudahlah, sebab kalo mau pake hitungan korban nggak sedikit juga lho korban pasca ‘65, banyak juga lho yg tidak bersalah tapi jadi korban. Saya juga menentang kekerasan dan pembunuhan, karena itu sebetulnya apa yg sodara dan saya tentang sebenarnya sama, yakni sikap mau benarnya sendiri dan menyingkirkan orang-orang yg berbeda pendapat.

    “…saya hanya tak mau sejarah berdarah di negri kita terulang lagi saya hanya ingin memperingati teman2 adik2 saya dari tetangga dan orang di sekitar kita untuk mencegah pki bangkit di indonesia bahkan saya juga memberi arahan pada mantan pki bahwa apa yg di kerjakan sia2″

    Silahkan, itu hak anda. Tiap orang punya hak untuk mempertahankan prinsipnya masing-masing. Tapi jangan main paksa doooong, misalnya sampe pake bakar-bakar buku segala (saya tdk sdg menuduh anda lho:) dan jangan sampe beranggapan bahwa orang yang punya prinsip berbeda berarti “sampah” sehingga harus dibersihkan.

    “…dan saya menolak tegas gagasan pki bila hak cipta seseorang tak diperbolehkan pantas negrikita kebudayaan nya banyak di klaim negara tetangga dan tak menghargai karya orang lain.”

    kok saya jadi ingat isu ttg opensource itu adalah komunis ya. gaswat deh. lagian gimana juga hubungan antara pki, hak cipta, dan klaim negeri tetangga atas kebudayaan kita. kalo anda elaborasi hubungan antara ketiganya, kayaknya bakal jadi artikel bagus tuh. saya yakin pengurus situs ini mau memublikasikannya :D

    “…sedang kutipan tentang “tuhan” saya cuma turut memperingatkan toh yg penting saya berjuang lilahitaala atasnama allah tuhan serusekalian alam dan memurnikan AL QURAN juga al hadis semoga anda mengerti maksut saya dan moga anda tak terpengaruh komunis amin

    Amin, terima kasih atas doanya.
    Mengenai maksud anda itu, sepertinya masih banyak yg belum saya pahami, mudah2an sodara bersedia menjelaskan hal-hal yang masih jadi tanda tanya.

    Salam

    [Reply]

  19. nisa diani says:

    yang dibahas ini kan soal pembakaran buku? kenapa pembicaraannya melebar kemana2…

    pantesan masalah di Indonesia g selesai2. sukanya melebar2kan masalah sih…
    :D *crossfinger

    [Reply]

  20. Saut Situmorang says:

    AYO BIKIN ‘FRONT PEMBELA KOMUNIS’!!! PKI ITU PAHLAWAN BANGSA, PARTAI PERTAMA YANG BERANI MEMAKAI NAMA ‘INDONESIA’ SEBELUM INDONESIA ADA! PARTAI PERTAMA YANG BERANI BERONTAK TERHADAP BELANDA TAHUN 1926! PIMPINAN PKI BERKORBAN KERNANYA, MATI, DIBUANG KE DIGUL, ATO DIBUANG KE BELANDA. PKI TAK PERNAH MEMBERONTAK TERHADAP ‘INDONESIA’. TAHUN 48 ITU ADALAH PERANG SAUDARA DI TUBUH MILITER SENDIRI, SAMA SEPERTI TAHUN 65! MILITER YANG SELALU MEMBERONTAK DI NEGERI INI! TAHUN 50AN MEREKA BERUSAHA MEMBUNUH SUKARNO DI CIKINI JAKARTA, MEREKA BERONTAK DENGAN NAMA PRRI/PERMESTA, MEREKA BERONTAK DAN MENGKUDETA SUKARNO DAN MENDIRIKAN ORDE BARU! ISLAM JUGA MEMBERONTAK DI JAWA BARAT DGN NAMA DI/TII. PKI CUMA MEMBERONTAK TERHADAP BELANDA! PKI BISA BEGITU POPULER DI TAHUN 60AN KERNA RAKYAT MELIHAT CUMA PKI YG BENAR-BENAR MEMPERHATIKAN MEREKA, MISALNYA DGN MELAKUKAN ‘AKSI SEPIHAK’ MEWUJUDKAN ISI UNDANG-UNDANG AGRARIA TENTANG LAND-REFORM. CUMA KAUM TUAN TANAH TAIK KUCING PENINDAS RAKYAT YG TAK SUKA DGN AKSI BELA RAKYAT PKI INI!

    KALAU MAU TAHU TENTANG PKI, JANGAN BACA SEJARAWAN LOKAL YG CUMA JADI ANTEK MILITER, SEJARAWAN TAIK KUCING TAK BERMUTU! BACALAH BUKU-BUKU PARA PENELITI LUAR NEGERI, PARA PROFESOR LUAR NEGERI, YG TINGGI TINGKAT INTEGRITAS INTELEKTUALNYA, KAYAK RUTH MCVEY DGN BUKUNYA YG SUDAH DIINDONESIAKAN BERJUDUL ‘SEJARAH KOMUNISME DI INDONESIA, ATO BEN ANDERSON DKK TENTANG PERISTIWA KUDETA MILITER 65, ATO DISERTASI TOP JOHN ROOSA ‘DALIH PEMBUNUHAN MASSAL’. SEJARAH ITU BUKAN DONGENG YANG BISA KAU KARANG-KARANG SEENAK UDELMU, SEJARAH ITU REALITAS!!!

    [Reply]

  21. Saut Situmorang says:

    Front Anti Komunis kalok memang berani membicarakan Sejarah Indonesia, ayo bikin Debat Nasional besar-besaran! Di Surabaya pun jadi! Minta bos kalian Tentara itu jadi sponsor! Jangan sok berani pakek kekerasan cuma kerna tahu ada backing Tentara! Kalok Rakyat bergerak, kencing dalam celana kalian!!!

    [Reply]

  22. Saut Situmorang says:

    PEMBUNUHAN ATAS ANGGOTA PKI (PARTAI SAH DI INDONESIA SAMPAI BERKUASANYA TENTARA!) JUMLAH TERBESAR TERJADI DI JAWA TIMUR DAN BALI. DI JAWA TIMUR PEMBUNUHAN MASSAL ITU DILAKUKAN OLEH ORANG-ORANG YANG MENGAKU BERAGAMA, PERCAYA PADA TUHAN, DAN PARA TUAN TANAH PENINDAS RAKYAT, DAN DILATIH TENTARA! JENDRAL SARWO EDHIE MANTAN BOS RPKAD, KOPASSUS SEKARANG, YANG MEMBUAT PENGAKUAN INI SEBELUM DIA MATI DIKEJAR-KEJAR RIBUAN ARWAH PENASARAN!

    KALAU BENAR-BENAR BERAGAMA DAN PERCAYA TUHAN, BERTOBATLAH DAN JUJURLAH! KALOK NGGAK, DIBAKAR DALAM NERAKA JAHANAM KAU SELAMANYA!

    [Reply]

    Saut Situmorang Reply:

    Killing for God

    http://www.insideindonesia.org/edition-99/killing-for-god

    “Ulama were also mindful of the threat that the PKI posed to their material interests. The unilateral actions had targeted lands owned by ulama families or their religious boarding schools, as well as the properties of NU benefactors in rural areas of Java. NU leaders must have viewed with alarm the risk of communist attacks upon their privileged socio-economic position, much of which was connected to control of land and access to capital. And when the direct interests of NU ulama elite were at risk, the organisation was capable of mobilising with belligerent fervour.

    Ulama used Islamic boarding schools and public sermons to vilify communists. References to communist treachery at Madiun became increasingly common from 1964, as did mention of recent clashes between NU and PKI supporters, some of which resulted in severe injuries or death to NU members. The overall effect was to create an impression in the mind of the NU community that the PKI represented a lethal threat. Moreover, this threat had been historically recurring; the PKI had quickly recovered from its defeat at Madiun and become Indonesia’s largest political party by the late 1950s. The ulama argued that NU should now use the failed coup to help destroy communism permanently.

    NU ulama did not only sanction the killings – they were also often directly involved in organising and training the Banser units and ad hoc killing squads. When attending training sessions, they would give special guidance and prayers for members, as well as dispensing amulets or talismans to ensure the safety of those involved in killings. Former Banser members from this period recount how they regarded themselves as a privileged group, closer to the religous elite than other NU members and better able to receive their blessings – something that is important in traditionalist Muslim communities, where ulama are seen as being able to channel God’s grace, and close proximity to them is likely to bring spiritual and material reward.”

    [Reply]

  23. Saut Situmorang says:

    Pelajaran-Pelajaran Dari Kudeta 1965 Indonesia

    http://www.wsws.org/exhibits/1965coup/coup1965.shtml

    [Reply]

  24. Saut Situmorang says:

    Tragedi 1965 Belum Selesai, Komnas HAM Wajib Merespon

    http://dev.progind.net/modules/AMS/article.php?storyid=22

    [Reply]

  25. Saut Situmorang says:

    Kolektif Info Coup d’etat ‘65

    http://dev.progind.net/

    [Reply]

  26. Saut Situmorang says:

    Majalah Tempo Online
    11 Agustus 2008

    Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis

    oleh Ignas Kleden

    # Sosiolog, Ketua Komunitas Indonesia untuk Demokrasi

    TAN Malaka meninggal pada usia 52 tahun. Setengah dari usia itu dilewatkannya di luar negeri: enam tahun belajar di Negeri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia. Pelarian politiknya dimulai di Amsterdam dan Rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok, sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan masa pelarian yang paling lama di Tiongkok.

    Selama masa itu, dia menggunakan 13 alamat rahasia dan sekurangnya tujuh nama samaran. Di Manila dia dikenal sebagai Elias Fuentes dan Estahislau Rivera, sedangkan di Filipina Selatan dia menjadi Hasan Gozali. Di Shanghai dan Amoy dia adalah Ossario, wartawan Filipina. Ketika menyelundup ke Burma, dia mengubah namanya menjadi Oong Soong Lee, orang Cina kelahiran Hawaii. Di Singapura, ketika menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas, dia bernama Tan Ho Seng. Setelah masuk kembali ke Indonesia, dia bekerja di pertambangan Bayah, Banten, dan menjadi Ilyas Hussein.

    Pelarian dan penyamaran itu dimungkinkan, salah satunya, karena dia menguasai bahasa-bahasa setempat dengan baik. Ketika dia ditangkap di Manila pada Agustus 1927, koran Amerika, Manila Bulletin, menulis, “Tan Malaka, seorang Bolsyewik Jawa, ditangkap. Dia berbicara bermacam-macam bahasa: Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Tagalog, Tionghoa, dan Melayu.” Dalam pelarian itu, bermacam-macam pekerjaan sudah dilakukannya.

    Di Amsterdam dan Rotterdam dia berkampanye untuk partai komunis Belanda pada waktu diadakan pemilu legislatif dan ditempatkan pada urutan ketiga. Di Moskow dia menjadi pejabat Komintern dengan tugas mengawasi perkembangan partai komunis di negara-negara Selatan, yang mencakup Burma, Siam, Annam, Filipina, dan Indonesia. Di Kanton dia menerbitkan majalah berbahasa Inggris, The Dawn. Di Manila dia menjadi kontributor untuk koran El Debate. Di Amoy dia mendirikan Foreign Languages School yang mendapat banyak peminat dan memberinya cukup uang. Di Singapura dia menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas walau tanpa ijazah.

    Sebelum dibuang ke luar negeri, dia dipenjarakan tiga kali oleh pemerintah kolonial, di Bandung, Semarang, dan Jakarta. Dalam pelariannya ke luar negeri, dia dipenjarakan di Manila dan Hong Kong. Setelah kembali ke Indonesia, dia dimasukkan ke penjara oleh pemerintah Indonesia di Mojokerto (1946-1947).

    Dia mengagumi secara khusus pejuang kemerdekaan Tiongkok, Dr Sun Yat-sen, yang di kalangan pengikut bawah tanah dipanggil Sun Man. Dia membaca buku San-Min-Chu-I dan berkesimpulan bahwa Dr Sun tidak sepaham dengan dia dalam teori dan metode. Menurut Tan Malaka, Dr Sun bukanlah seorang Marxis, melainkan sepenuh-penuhnya seorang nasionalis. Dalam metode, dia tidak berpikir dialektis, tapi logis. Namun kesanggupan analisisnya tinggi, kemampuan menulisnya baik sekali, dan dia seorang effective speaker. Kekuatan Dr Sun terdapat dalam dua hal lain, yaitu satunya kata dan tindakan serta tabah menghadapi kegagalan. Usahanya memerdekakan Tiongkok dari Kerajaan Manchu baru berhasil pada percobaan ke-17, setelah 16 kali gagal.

    Dr Jose Rizal menjadi pahlawan Filipina dan pahlawan Tan Malaka karena ketenangannya menghadapi maut. Beberapa saat sebelum dia ditembak mati, seorang dokter Spanyol rekan seprofesinya meminta izin kepada komandan agar diperbolehkan memeriksa kondisi kesehatannya. Dengan tercengang si dokter melaporkan bahwa denyut pada pergelangan tangan Dr Rizal tetap pada ketukan normal, tanpa perubahan apa pun. Ini hanya mungkin terjadi pada seseorang yang sanggup menggabungkan keyakinan penuh pada perjuangan, ketabahan dalam menderita, dan keteguhan jiwa menghadapi maut. Di sini terlihat bahwa Tan Malaka bukanlah seorang Marxis fundamentalis, karena dia dapat menghargai Dr Sun Yat-sen, nasionalis pengkritik Marxisme, dan mengagumi Dr Rizal, seorang sinyo borjuis dengan berbagai bakat tapi menunjukkan sikap satria sebagai pejuang kemerdekaan.

    Kritik Tan Malaka kepada Bung Karno tidaklah ada sangkut-pautnya dengan sikap Soekarno terhadap Madilog, tapi merupakan kritik yang wajar terhadap seseorang yang sangat dihormatinya. Dasar kritiknya adalah apa yang dilihatnya sebagai kebajikan Dr Sun Yat-sen, yaitu satunya kata dengan perbuatan. Menurut Tan Malaka, ketika memimpin PNI, Soekarno selalu mengajak penduduk Hindia Belanda yang berjumlah 70 juta jiwa itu untuk berjuang mencapai Indonesia merdeka dengan menggunakan tiga pegangan, yakni sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan aksi massa yang tak mengenal kompromi. Dia memberikan apresiasi tinggi bahwa Soekarno telah banyak menderita dan dibuang ke pengasingan karena gagasan-gagasan politiknya.

    Maka dia kecewa melihat Soekarno berkolaborasi dengan Jepang selama pendudukan di Indonesia. Kekecewaan ini disebabkan oleh dua latar belakang. Pertama, Tan Malaka merasa dekat dengan Soekarno, yang menerapkan aksi massa dalam perjuangan politiknya hampir sepenuhnya menurut apa yang ditulisnya di Singapura pada 1926 dalam sebuah brosur tentang aksi massa. Kedua, dia sangat terpesona oleh perjuangan kemerdekaan Filipina dengan semboyan immediate, absolute and complete independence (kemerdekaan segera, tanpa syarat, dan penuh). Kekecewaan ini sedikit terobati ketika Soekarno-Hatta atas desakan pemuda revolusioner membuat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

    Salah satu karya Tan Malaka yang boleh dianggap sebagai opus magnum-nya adalah buku Madilog, yang ditulis selama delapan bulan dengan rata-rata tiga jam penulisan setiap hari di persembunyiannya dekat Cililitan. Buku itu menguraikan tiga soal yang menjadi pokok pemikirannya selama tahun-tahun pembuangan, dengan bahan-bahan studi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, tapi sebagian besar harus dibuang untuk menghindari pemeriksaan Jepang. Naskah buku ini praktis ditulis hanya berdasarkan ingatan setelah bacaan dihafal di luar kepala dengan teknik pons asinorum (jembatan keledai).

    Ketiga soal itu adalah materialisme, dialektika, dan logika. Materialisme diperkenalkannya sebagai paham tentang materi sebagai dasar terakhir alam semesta. Logika dibutuhkan untuk menetapkan sifat-sifat materi berdasarkan prinsip identitas atau prinsip nonkontradiksi. Prinsip logika berbunyi: A tidak mungkin sama dengan yang bukan A. Atau dalam rumusan lain: a thing is not its opposite. Sebaliknya, dialektika menunjukkan peralihan dari satu identitas ke identitas lain. Air adalah air dan bukan uap. Tapi dialektika menunjukkan perubahan air menjadi uap setelah dipanaskan hingga 100 derajat Celsius.

    Madilog adalah penerapan filsafat Marxisme-Leninisme. Tesis utama filsafat ini berbunyi: bukan ide yang menentukan keadaan masyarakat dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, melainkan sebaliknya, keadaan masyarakatlah yang menentukan ide. Kalau kita mengamati hidup dan perjuangan Tan Malaka, jelas sekali bahwa sedari awal dia hidup untuk merevolusionerkan kaum Murba, agar menjadi kekuatan massa dalam merebut kemerdekaan politik. Dia bergabung dengan Komintern di Moskow dan Kanton karena setuju dengan tesis Komintern bahwa partai komunis di negara-negara jajahan harus mendukung gerakan nasionalis untuk menentang imperialisme.

    Semenjak masa mudanya di Negeri Belanda, Tan Malaka sudah terpesona oleh Marxisme-Leninisme. Paham inilah yang menyebabkan dia dipenjarakan berkali-kali dan dibuang ke luar negeri. Ini berarti bukan penjara dan pembuangan itu yang menjadikan dia seorang Marxis, melainkan sikap dan pendiriannya yang Marxislah yang menyebabkan dia dipenjarakan dan dibuang. Selain itu, dia pertama-tama tidak berjuang untuk kemenangan partai komunis di seluruh dunia, tapi untuk kemerdekaan tanah airnya.

    Dengan demikian, hidup Tan Malaka menjadi falsifikasi radikal terhadap gagasan Madilog yang dikembangkannya. Paradoksnya: dia seorang Marxis tulen dalam pemikiran, tapi nasionalis yang tuntas dalam semua tindakannya. Kita ingat kata-katanya kepada pemerintah Belanda sebelum dibuang: Storm ahead (ada topan menanti di depan). Don’t lose your head! Ini sebuah language game yang punya arti ganda: jangan kehilangan akal dan jangan kehilangan kepala. Tragisnya, dia yang tak pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri akhirnya kehilangan kepala di tanah air yang amat dicintainya.

    Sumber:

    http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/08/11/LU/mbm.20080811.LU127934.id.html

    [Reply]

  27. Saut Situmorang says:

    AYO, Prof Aminuddin Kasdi, NGOMONG KAU DI SINI! BUKTIKAN KEPROFESORANMU ITU!!!

    [Reply]

  28. Kalo orang masih mengira bisa menghapus ide dengan membakar buku, itu tandanya dia primitif. Biar dunia melihat siapa sebenarnya yang buta huruf.
    Jaman gigapedia masih bakar buku? saknone rek rek

    [Reply]

Beri tanggapan

Mutiara Buku

“semua karya besar (yang benar-benar hebat) berisi sesuatu kegagalan...”

oleh  Milan Kundera

Tanggapan Pembaca

  • M. Faizi: Iya. Hal semacam ini banyak terjadi. Terakhir yagn saya tahu adalah puisi-puisi Afrizal Malna yang...
  • indi aunullah: analisis perbandingan yang lebih detail terhadap dua tesaurus ini, tulisan Amin Sweeney, seorang...
  • Faisal: ijin share gan…
  • bertuhan1: Sdr. Arumbinang, Mungkin lho Sdr. Redaksi Tempo ( Baca GM) sudah memprediksi bahwa mereka (ex lekra) yang...
  • bertuhan1: Hai yang berinisial : iyas, iboekoe, naga kembar, diana av, dll. yang sepaham dengannya…… Kami...

Berlangganan

Daftarkan email anda untuk mendapatkan update berita di situs ini via email.
Disclaimer: Diizinkan mengutip artikel di situs ini dengan mencantumkan sumbernya. Hak cipta berada pada IBOEKOE dan masing-masing penulis.
Add to Technorati Favorites Join My Community at MyBloglog! Books Blogs - Blog Catalog Blog Directory blog-indonesia.com