Hasil gambar untuk Tragedi Kemanusiaan 1965-2005

Judul buku : Tragedi Kemanusiaan 1965-2005

Penulis : Heri Latief, Ratih Miryanti, Daniel Mahendra

Penerbit : Lembaga Sastra Pembebasan dan Penerbit Malka

Halaman : 335

ISBN : 9799652855

Rentang waktu 40 tahun bukan waktu yang singkat bagi seseorang, tapi bagi sebuah negara tentulah itu waktu yang sebentar. Apalagi dalam mengingat sejarah yang berjalan. Tetapi sungguh beribu sayang negara kita tidak bisa mengingat sejarah penting dalam kurun 40 tahun. Kemudian buku ini hadir seolah menjadi utusan dewa agar kita mengingat bagaimana peristiwa itu terjadi, dan efeknya yang masih terasa sampai 40 tahun bahkan sekarang.

Salah seorang presiden terkemuka sempat terjegal dengan isu PKI, yang tentu saja diakibatkan oleh peristiwa pilu itu, 1965. Jokowi sempat diisukan menjadi bagian dari PKI yang dianggap masih ada sampai sekarang. Buku ini tentu saja tidak hanya memperlihatkan bagaimana peristiwa 65 terjadi, tapi juga menjadi contoh bagi kita semua bagaimana sebuah karya sastra dapat menunjukan hal-hal nyata yang terjadi. Dengan segala unsur intrinsik yang ada dan menjadi kaidah kesusastraan, dapat kita contoh bagimana ketika kita nanti berkarya harus bisa menciptakan suatu karya yang tidak kosong. Untuk hal itu mari kita cermati lebih jauh perihal membuat karya yang tidak kosong seperti pada buku ini.

Pertama mari kita mulai mencermati dari tema, sebagai awal dalam perjalanan membedah buku ini. Tema pada buku ini sangat kental dengan sosiologi, yang mengambil fokus pada perjuangan dan penderitaan pada peristiwa besar dalam sejarah. Tema ini perlu diangkat karena memiliki nilai kemanusiaan yang tentu saja merupakan fungsi sastra dalam masyarakat, yaitu mengingatkan manusia tentang kemanusiaan. Dalam ruang-ruang kelas, juga dalam bilik-bilik kantor, terkadang kita lupa perihal kemanusiaan. Dari hal itu tema ini diangkat, karena membuat karya menjadi lebih mulia dan berisi, yang juga bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Kemudian tak lupa juga mari kita amati plot yang ada dalam buku ini. Tentu saja karena ini adalah antologi dari berbagai penulis, maka beragam tipe rangkaian plot menarik bisa kita temui pada buku ini. Ada cerita yang mengenalkan tokohnya lewat pembicaraan orang lain, sehingga kita seperti ikut membicarakannya, ada pula yang langsung mengenalkan diri dengan bahasa yang lugas, seolah-olah memang sedang berkenalan dengan kita, hingga kita hanyut pada cerita. Kemudian setelah sampai konflik, ada beberapa cerita yang memiliki konflik seperti pada umumnya, namun tetap dikaitkan dengan peristiwa 65. Sebagian cerita yang lain memiliki konflik tidak terduga yang tidak pernah kita bayangkan, sebagai korban atau pelaku pada peristiwa 65 tersebut. Baik dengan akhir kisah yang membahagiakan, maupun akhir kisah yang menyedihkan. Alur pada cerita di buku ini memiliki, berbagai tipe, ada yang maju, ada yang mundur, ada pula yang campuran. Dapat kita jadikan contoh dalam proses kreatif ketika sedang membuat karya.

Penokohan pada buku antologi ini terbilang sederhana. Hampir setiap kisahnya lebih menonjolkan konflik dibandingkan keunikan karakter. Protagonis, antagonis, dan tirtagonis berperan pada bagiannya masing-masing. Hanya tiga kisah yang memiliki penokohan menarik dalam mengaitkan dengan peristiwa 65. Semisal seorang pahlawan yang ternyata dia rela mengorbankan temannya sendiri demi keselamatan kelompok. Warna-warni penokohan bisa kita lihat di sana.

Latar yang terdapat pada kisah-kisah di buku antologi ini sangat terasa nyata. Mungkin karena memang kisah-kisah pada buku ini terinspirasi dari kisah nyata. Banyak penulis di buku ini yang berhasil menciptakan sebuah tempat dalam karyanya menjadi begitu nyata, dikombinasikan dengan kelakuan tokoh dan arah konflik yang terjadi. Untuk informasi sampingan, tidak semua cerita bertempat di Indonesia, ada pula yang mengambil tempat di luar negeri, yaitu Amerika, negara yang dihuni oleh arsitek peristiwa 65.

Pada buku ini pun suasana yang muncul bisa kita rasakan dengan betul. Ada suasana sedih, ketika kemanusiaan diabaikan, dan kita melihat perihnya kehidupan tokoh. Ada suasana bahagia ketika akhirnya sang tokoh dapat memetik hasil dari ketabahan yang ia lakukan. Terdapat getir-getir zaman dahulu yang masih bisa kita rasa saat membacanya.

Dari kelebihan-kelebihan tadi yang sudah dipaparkan, ada baiknya kita mencontoh pada buku ini. Agar kekayaan ilmu dan cara proses kreatif kita dalam berkarya menjadi lebih luas. Meski disamping hal itu, ada kekurangan yang perlu dijabarkan pula, yaitu sudut pandang yang dipakai pada sebagian besar cerita di buku antologi ini menggunakan cara pada umumnya, yaitu sudut pandang orang ketiga serba tahu. Hal itu membuat buku yang berjudul Tragedi Kemanusiaan 1965 – 2005 ini, hampir mendekati kata sempurna. Semoga kita semua setelah membaca ulasan buku ini, dapat menciptakan karya yang tidak kosong, dan mampu mencapai kata sempurna dari segi gaya intrinsik. Cukup sekian ulasan pada buku Tragedi Kemanusiaan 1965 – 2005 ini, mohon maaf bila ada salah kata, sungguh memaafkan itu hal yang mulia, seperti para korban tragedi 1965 yang memaafkan pemerintah Indonesia.

Resensi ini ditulis oleh salah satu mahasiswa tingkat akhir Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, Ghulam Shabirrahman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *